Makam Anakia Ndonganeno dan Tradisi Megalitik di Ambesea Konawe Selatan 

Posted on 26 November 2025 21:41 | Oleh sapasultra | Viewer 268

KONAWE SELATAN, SAPASLTRA.COM - Di wilayah Ambesea, Kabupaten Konawe Selatan terdapat kompleks makam kuno yang menjadi jejak penting sejarah kepemimpinan lokal, yaitu Makam Anakia Ndonganeno beserta makam anak-keturunannya. Kompleks ini menunjukkan kelanjutan tradisi megalitik dalam budaya pemakaman masyarakat Tolaki.

1. Bentuk dan Struktur Makam
Kompleks makam tersebut terdiri dari 12 makam, yang ditandai dengan:

- Nisan batu berbentuk menhir (tugu batu tegak)
- Susunan batu besar (blok) disusun berbentuk persegi empat
- Beberapa makam menggunakan susunan batu berbentuk oval
- Batu-batu disusun rapat sebagai penanda sakral dan simbol kehormatan terhadap tokoh pemimpin adat atau Anakia
- Bahan batu berasal dari batu alam lokal yang dipahat atau dipotong sederhana, sesuai tradisi megalitik.

2. Makna dan Fungsi Adat
Makam-makam tersebut digunakan untuk pemakaman:

- Anakia Ndonganeno — tokoh penting dan pemimpin adat wilayah Ambesea

- Keturunan langsung (12 makam anggota keluarga) yang juga memiliki peran sosial atau status kepemimpinan

- Makam digunakan sebagai tempat ziarah adat dan penghormatan leluhur.

Dalam pandangan masyarakat Tolaki, nisan batu bukan sekadar tanda kubur, tetapi:

1. Simbol wibawa, kekuatan, dan martabat pemimpin

2. Tanda wilayah kekuasaan

3. Media spiritual penghubung antara generasi

3. Hubungan dengan Tradisi Megalitik
Keberadaan makam ini menunjukkan bahwa tradisi megalitik tetap hidup hingga masa kerajaan dan Islam di Konawe. Penggunaan batu-batu besar dan nisan menhir menegaskan kesinambungan budaya dari masa prasejarah ke masa kerajaan dan kolonial.

Tradisi ini sejalan dengan pola arkeologi makam di Meluhu, Lambuya, Ranomeeto, dan beberapa wilayah Konawe lainnya yang dikategorikan sebagai:

- Masa Islam yang masih memelihara tradisi megalitik sebagai simbol penghormatan leluhur dan struktur sosial adat.

4. Perkiraan Waktu Historis
Berdasarkan perkembangan Islam di Konawe sejak abad ke-16 dan silsilah kepemimpinan lokal, kompleks makam Ambesea dan  kompleks makam lain di Konawe menyimpulkan makam-makam tersebut adalah “masa Islam yang masih dipengaruhi tradisi megalitik” — artinya pemakaman terjadi setelah Islam masuk ke wilayah, tetapi menggunakan nisan batu/menhir yang merupakan warisan kebudayaan lebih tua. 
- sekitar abad ke-17 hingga abad ke-19, masa aktif kepemimpinan Anakia dan masa kerajaan Konawe.

Kesimpulan
Makam Anakia Ndonganeno di Ambesea dengan 12 makam keturunannya merupakan bukti konkret tradisi megalitik di Konawe, ditandai penggunaan batu besar sebagai nisan dan konstruksi makam berbentuk persegi empat dan oval. Makam ini menjadi bukti kesinambungan budaya pemuliaan leluhur dan sistem kepemimpinan adat Tolaki. Adi Yusuf Tamburaka 25 November 2025 Sekjend Masyarakat Adat Tolaki Sulawesi Tenggara

Tags :
https://www.sapasultra.com.kendari-web.my.id/PROMOSI IKLAN